Selasa, 21 Januari 2014

BUMI DAN LANGIT


 
Sungguh sangat kontras melihat tayangan sore ini di Trans TV dan Trans 7.. Trans TV mengangkat kisah Angelina Sondakh alias Angie dalam program Inside. Sedangkan acara di Trans 7 di jam yang sama adalah Orang Pinggiran. Angie yang tengah tersangkut perkara suap, bahkan sudah berstatus tersangka, masih tetap menjalani kehidupan dengan senyum, dandanan oke dan wangi.. Hari ini media online memberitakan ‘kesibukan anggota Fraksi Partai Demokrat itu yang cuma ‘bekerja’ sekitar setengah jam nongol di Gedung DPR. Kabarnya, anaknya sedang sakit, sehingga harus segera menjemput si buah hati di sekolah. ”Maaf ya, anak saya kata kepala sekolahnya nangis terus karena sakit. Di telepon, anak saya nangis terus. Saya mau jemput,” kata Angie saat meninggalkan Gedung KK-2 DPR, Jakarta, Jumat (2/3) seperti dikutip Liputan6.com.

Coba simak perjuangan Eti, sang tokoh dalam Orang Pinggiran yang warga sebuah desa di Tasikmalaya. Eti, 45 tahun, harus bekerja ekstra keras menghidupi kedua anaknya, dan suaminya Oco, yang tuna netra. Kehidupan sehari-hari dijalani Eti dengan mencari kayu bakar, mencari bambu buat bahan membuat besek atawa pipiti (bahasa Sunda), serta menjadi buruh panggul saat ada tetangga membutuhkan tenaganya. Eti memotong-motong sendiri bambu disesuaikan dengan ukuran pipiti yang akan dibuatnya.

Bambu yang sudah dipotong-potong itu kemudian dibelah oleh Oco, sang suami yang buta karena penyakit yang entah apa namanya. Sebelum gelap total, Oco mengeluh penglihatannya tampak kuning, yang lama-lama berubah menjadi gelap, dan gelap. Oco pun tak bisa melihat lagi. Namun, tanpa penglihatan normal, bukan menjadikan Oco menyerah. Ia mampu membelah bambu, hingga tipis, sebagai bahan anyaman membuat besek. Sungguh perjuangan berat. Ia sebagai kepala rumah tangga, sangat sedih mengharuskan istrinya bekerja keras. Sementara ia hanya bisa membantu membuat besek. Ia selalu ingin menangis. Namun ia tabah dan selalu bersyukur atas karunia Tuhan yang diberikan kepada keluarganya.

Selain membuat besek, Eti juga menjadi buruh panggul saat tetangga butuh tenaganya. Yg rutin adalah membawa sekarung gabah menuju tempat penggilingan gabah, kemudian menyerahkan kembali beras ke sang pemilik. Ia harus berjalan lebh dari 1 km memanggul 50an kg gabah menuju selepan. Upahnya ‘hanya’ sekilo beras, plus sisa uang ongkos menggilingkan gabah. Sore itu ia mendapat Rp 2.500 plus sekilo beras.

Dari hasil jualan pipiti ukuran kecil itu, Eti dan Oco ‘hanya’ mendapat Rp 25.000 untuk 100 besek yang diselesaikan dalam sepekan. Sungguh saya tak bisa membayangkan bagaimana matematikanya mencukupi kebutuhan keluarga, setidaknya makan buat empat orang. Anak Eti yang tinggal di rumah ada dua, Maryati dan adiknya yang masih sekolah di SD. Maryati, 14 tahun, putus sekolah. Ia sehari-hari membantu mencari rezeki dengan menjadi tenaga soldir, melubangi kain bordiran khas Tasikmalaya. Dari hasil melubangi selembar kain bordiran itu Maryati mendapat upah Rp 1.000. Dengan penghasilan mereka itu, sehari-hari Eti dan keluarganya hanya makan nasi dan garam.

Sungguh saya tidak juga tdk bisa membayangkan, ketika media menyebut Angie biasa menghabiskan uang hampir Rp 1 miliar, yang konon untuk belanja dalam sebulan.Beli apaan ya? Sementara Eti dan keluarganya mencukupi kehidupan mereka dalam sebulan mungkin hanya dengan dua lembar seratus ribu rupiah. Sungguh saya tak mengerti ketika seorang anggota DPR mengatakan mobil seharga Rp 1 miliar bukan barang mewah. Apa mereka tak pernah mengunjungi kehidupan rakyat yang diwakilinya?

Semoga Eti dan keluarganya tak selamanya hidup dalam kekurangan. Sehingga lagu sendu itu tak harus mengalun bagi orang2 pinggiran seperti Eti dan keluarganya, sementara anggota dewan banyak yang selalu berdendang dengan uang bergelimang, lupa pada rakyat yang diwakilinya…


Deden Rojudin,DKI Jakarta Indonesia
 

Kamis, 15 Agustus 2013

Malam di pantai Losari


Pantai Losari terletak di Jalan Penghibur, disebelah barat Kota Makassar, Kecamatan Makassar, Kabupaten Makassar, Propinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

Dahulu Pantai Losari pernah dijuluki sebagai pantai dengan meja terpanjang didunia, karena warung-warung tenda berjejer disepanjang tanggul pantai, yang panjang pantainya kira-kira satu kilometer. Dahulu, pantai ini dikenal juga sebagai pusat makanan laut dan ikan bakar dimalam hari, karena para penjual dan pedagang hanya berjualan dimalam hari.
Sekarang Pantai Losari terlihat lebih cantik, karena Pemerintah Kota Makassar telah membuat anjungan seluas 100 ribu meter persegi dipantai ini. Setelah dibuatkan anjungan, Pantai Losari terlihat lebih bersih, indah serta nyaman untuk dikunjungi. Sedangkan warung-warung yang bertebaran disepanjang pantai telah dipindahkan ketempat yang tidak jauh dari kawasan wisata Pantai Losari. 
Pantai Losari berada dipinggir jalan dan diseberang jalannya terdapat berbagai macam kegiatan seperti hotel, restaurant dan banyak lagi lainnya, Pantai Losari sendiri tidak bisa dijadikan sebagai tempat untuk berlari-lari sepanjang pasir pantai, karena pantainya sudah ditanggul.
Daya Tarik Pantai Losari
Pantai Losari adalah merupakan salah-satu ikon wisata Kota Makassar.
Pantai Losari mempunyai daya tarik yang unik, yaitu pengunjung dapat menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari pada satu posisi yang sama. Dikala senja telah tiba, pengunjung bisa menikmati keindahan matahari yang akan tenggelam keperaduannya. Di Pantai Losari inilah sebagian besar warga Makassar menghabiskan waktunya untuk bersantai, baik pada pagi hari, sore maupun malam hari. Dari pukul 05.00 WITA – 10.00 WITA, kawasan pantai ini digunakan untuk tempat bersantai-santai, jalan-jalan, jogging dan bersepeda, pada jam-jam ini kawasan ini tertutup untuk kendaraan bermotor.
Pantai Losari paling ramai dikunjungi pada sore hari yaitu diantara pukul 15.00 WITA sampai pukul 21.00 WITA dan untuk rekreasi di Pantai Losari tidak perlu membayar tiket masuk alias gratis dan memang disediakan sebagai tempat rekreasi cuma-cuma untuk masyarakat umum.
Disebelah selatan anjungan Pantai Losari terdapat sebuah kafe dan restoran terapung. Di restoran ini, pengunjung bisa menikmati berbagai macam masakan laut, seperti masakan lobster, ikan, cumi-cumi dan lainnya. 

Fasiltas Yang Tersedia Di Kawasan Pantai Losari
Di Jalan Penghibur tersedia hotel dan hotel berbintang, wisma, kafe, restoran, tempat-tempat hiburan dan lain-lainnya.
Jika ingin kepusat perbelanjaan kerajinan emas dan souvenir khas Kota Makassar, wisatawan bisa mengunjungi Jalan Somba Opu.
Untuk alat transportasi tersedia taksi, bus, becak.

Makanan Khas Di Pantai Losari
Beberapa makanan khas dari Makassar, seperti Epe (Pisang mentah yang dibakar, kemudian pisangnya dibuat bentuk pipih lalu diberi kuah dari air gula merah.), 
Coto Makassar, Sop Konro, Pisang Ijo, Pallu Butung dan aneka masakan laut.

Perjalanan Menuju Pantai Losari
Dari Bandara Udara Hasanuddin, perjalanan menuju Pantai Losari memerlukan waktu ± 45 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Dari Pelabuhan Sukarno Hatta Makassar, perjalanan menuju Pantai Losari memerlukan waktu ± 20 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Naik perahu bebek sama kekasih


  Malam Minggu seringkali dijadikan waktu untuk menikmati suasana kota oleh turis. Di Makassar, ada satu aktivitas romantis yang bisa dilakukan traveler untuk menikmati malam, yakni naik perahu bebek di Pantai Losari.
Pantai ini sudah mulai ramai sejak pukul 17.00 WIB. Kebanyakan dari mereka memang sengaja mengawali malam Minggu dengan melihat matahari terbenam di sana.

Begitu malam tiba, suasana Pantai Losari akan semakin ramai. pengunjung akan merasakan sendiri kemeriahan pantai ini beberapa waktu lalu.

Ada banyak orang duduk di pinggiran pantai. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang datang bersama pasangan. Nah, khusus yang terakhir itu, mereka punya aktivitas seru sendiri dan cukup romantis, yakni naik perahu bebek di tepi laut Losari.

Eits, tapi jangan kira perahu bebek ini adalah perahu yang hanya untuk dua orang. Perahu bebek di Losari tidaknya didayung sendiri dan tidak hanya untuk dua orang

Perahu bebek di sana dijalankan dengan motor dan bisa untuk banyak orang. Untuk bisa naik, wisatawan diminta membayar Rp 10.000/orang.

Setelah membayar, Anda akan diantar pemilik perahu untuk naik ke atas perahu. Yang menarik, perahu ini bebek Losari dihias dengan lampu aneka warna. Kesan meriah pun langsung muncul begitu pertama kali melihatnya.


Perlahan, perahu mulai meninggalkan pelabuhan. Bergerak maju menyusuri pesisir Pantai Losari. Dari lautan, Pantai Losari tampak begitu bercahaya lewat jejeran lampunya. Orang-orang yang berkumpul pun tampak begitu kecil."Romantis juga ya kalau naik perahu ini dengan pacar,"

Setelah 15 menit mengarungi laut Losari, perahu bebek kembali ke pelabuhan. Saya pun turun dan perlahan meninggalkan perahu. Meski tak bersama kekasih, kemeriahan dan keromantisan naik perahu tetap terasa

.



Wajah lain penambangan emas di Pongkor


Seperti halnya perjudian segala sesuatu harus rela dikorbankan untuk kali ini berjuang mempertaruhkan nyawa,ya inilah fenomena yang terjadi di kawasan UBPE pongkor  demi uang apapun akan dilakukan.banyaknya angka pengangguran mengakibatkan banyak orang yang nekat menjadi PETI untuk harapan ,penuh asa dan mimpi digunung pongkor .

  
Menyusuri Jejak Gurandil di Tambang Emas Pongkor







20 April 2004 - Awal Maret , nama Pongkor kembali mengejutkan publik karena tragedi yang merenggut sejumlah nyawa manusia. Mereka yang mati cukup mengenaskan itu disebut-sebut sebagai penambang tanpa izin (peti), yang populer dengan julukan gurandil. Musibah tak cuma melanda peti, tapi juga beberapa karyawan penambangan yang resmi. Walhasil, 13 gurandil dan 1 karyawan tewas dalam terowongan penambangan emas Pongkor.
Di Gunung Pongkor memang berdiri sebuah penambangan emas resmi bernama Unit Bisnis Penambangan Emas (UBPE) Pongkor, milik BUMN PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Oleh masyarakat sekitar, UBPE Pongkor lebih sering disebut Tambang Emas Pongkor (TEP). TEP ini bersebelahan dengan Taman Nasional Gunung Halimun yang hijau dan rimbun, tepatnya di Sorongan, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, 54 kilimeter dari kota Bogor. Namun, ketika memasuki wilayah Bantarkaret, jangan harap Anda bisa menemukan angkutan umum atau angkutan desa. Yang ada hanyalah tukang-tukang ojek.
TEP memiliki 3 urat kuarsa yang mengandung emas dan perak, yaitu urat Ciguha, urat Kubang Kicau, dan urat Ciurug. Untuk mendapatkan emas dari urat-urat ini, Antam membangun terowongan utama berdiameter 3,3 meter setinggi 3 meter. Jika terus diikuti, terowongan ini akan tembus ke Gunung Pongkor yang jauhnya sekitar 4 kilometer. Pintu dari portal beton adalah satu-satunya tempat keluar masuk karyawan TEP.
Dalam terowongan ini, terdapat 4 lubang besar sebagai ventilasi.Dengan ventilasi semacam ini, orang bisa tahan tinggal selama dua hari dalam terowongan tanpa harus kehabisan udara bersih,
Tambang emas Pongkor (TEP) merupakan salah satu dari 6 unit bisnis milik Antam, yang dieksploitasi sejak 1974. Sejak restrukturisasi tahun 2000, yang mengalihkan fungsi tambang emas ini dari cost center menjadi profit center, TEP kini menjadi Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor (UBPE) Pongkor.
Keberadaan TEP dimulai dengan dilakukannya eksplorasi logam dasar (Pb dan Zn) di bagian utara Gunung Pongkor oleh geolog Antam mulai 1974 hingga 1981. Eksplorasi ini menemukan endapan urat kuarsa (quart vein) berkadar 4-gpt emas dan 126-gpt perak. Karena waktu itu Antam tengah fokus pada eksplorasi Cikotok, antara 1983- 1988 eksplorasi dihentikan sejenak. Barulah tahun 1988 hingga 1991 eksplorasi Pongkor dilanjutkan secara sistematis. Akhirnya, studi kelayakan pun dibuat dan Antam mengantongi Kuasa Pertambangan Ekploitasi seluas 4.058 hektare tahun 1991. Tahun 1992,
Pabrik pertama dengan kapasitas 2,5 ton emas/tahun berhasil dibangun pada tahun 1993, secara bersamaan Tailing Dam pun bisa direalisasikan. Pengembangan tambang terus dilakukan dan tahun 1997 dibukalah pabrik tambang baru di Ciurug berkapasitas produksi 5 ton emas/tahun. Pabrik ini resmi beroperasi tahun 2000. Dengan dua pabrik tambang inilah, terhitung 1 Agustus 2000, Antam memiliki wilayah penambangan di Pongkor seluas 6.047 hektare.
Mendulang emas tidaklah gampang, dibutuhkan keahlian dan kesabaran. Dari batu digerus menjadi lumpur kemudian diolah menjadi emas mentah. Dari lumpur emas seberat 4,5 ton, akan didapatkan 45 gram emas berkadar 10 karat,. Sebab itulah, target produksi emas per bulan hanya 350 kilogram.
TEP memiliki 1.526 karyawan yang bekerja dibagi menjadi 3 shift. Dalam satu hari, mereka hanya bisa ditambang 1.200 ton lumpur emas.
TEP adalah tambang bawah tanah alias, sehingga penambangan emasnya harus melalui serangkaian proses pemboran, peledakan, pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan kembali. sangat berbeda dengan yang dilakukan para gurandil, yang hanya mencari urat emasnya saja. Kami ingin menghindari kerusakan lingkungan,
Di Pongkor, bijih emas mentah diolah menjadi logam campuran emas 6 - 17% dan perak 82 - 92%, serta kotoran maksimum 4%. Campuran ini akan dimurnikan di Unit Bisnis Pemurnian Logam Mulia di Jakarta.
Meski prosesnya panjang, tak membuat TEP mangkir dari standardisasi baku penambangan. Terbukti pada tahun 2000 TEP berhasil menyabet ISO 9002 yang berkaitan dengan manajemen mutu. Dengan dibangunnya Tunnel di level 600 - 700 dpl urat Ciurug pada tahun 2001, TEP meraih ISO 14000 dan ISO 14001 yang berkaitan dengan sistem manajemen lingkungan. “Jadi, TEP tak mungkin dapat ISO kalau manajemen lingkungannya tidak bagus,
TEP yang dibangun dengan investasi Rp 100 miliar memberikan kontribusi sekitar 25-30% bagi pendapatan perseroan. Kontribusi dari emas tidaklah sebesar kontribusi nikel yang mencapai 65%. Setiap tahun kontribusi emas relatif stabil. Namun,  kontribusi ini sempat menurun jadi 11% kala peti merajalela tahun 1998. Peti telah merusak dan membakar aset perusahaan. Tapi tahun berikutnya, kontribusi emas naik kembali bahkan sempat melonjak hingga 41%. Untuk tahun 2004, berharap kontribusi emas Pongkor masih tetap pada kisaran 25 - 30%.
TEP memiliki cadangan geologi sekitar 6 juta ton bijih emas dengan kadar emas rata-rata 17,14 gram per ton dan kadar perak 154,28 gram per ton. Cadangan emas ini bisa dipertahankan hingga 12 atau 14 tahun lagi.
Peti
 
Pada awal-awal penambangan, sekitar 1994, tak ada satupun Peti yang beroperasi di Pongkor, beda dengan tambang Kalimantan yang selalu penuh Peti. Fenomena Peti marak tahun 1998 akibat faktor daya tarik harga emas yang mencapai angka Rp 100.000 per gram, di samping karena krisis ekonomi dan pengangguran yang melonjak. Diperkirakan ada sekitar 3.000 hingga 8.000 gurandil yang beroperasi di Pongkor. Sekitar 70% dari jumlah ini adalah pendatang dari Cikotok, Salopa, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, Rangkasbitung, Bengkulu, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur, sementara hanya 30% saja yang berasal dari Desa Bantar Karet dan Desa Cisarua.
Sebanyak 13 gurandil tewas dalam musibah Pongkor Maret lalu mati karena terjebak asap dalam terowongan di level IV. Para gurandil menuding bahwa TEP-lah yang menimbulkan asap tersebut untuk mengusir mereka.



para gurandil dalam melakukan aksinya biasanya menginap selama 1 minggu dan hanya menggunakan penerangan lilin. Khusus untuk level IV (lokasi tragedi), memang banyak digunakan kayu-kayu sebagai fasilitas, Ketika menginap, para gurandil tersebut membawa bekal logistik, mulai dari beras, mie, garam, ikan asin, dan juga peralatan memasak.
Yang jelas, 
 segala peraturan penambangan harus dipatuhi. Mulai dari tanda tangan kartu asuransi, memakai sepatu bot, berbaju warmpack, hingga berhelm yang bertengger senter di atasnya. Tidak lupa, masker pun harus dikenakan. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk menghindari bau yang tak sedap, Satu lagi, tidak diperbolehkan membawa benda-benda yang bisa menimbulkan api, semacam korek, karena efeknya bisa fatal.
Untuk menuju lobi terowongan utama dengan menggunakan lori, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit. Jika berjalan kaki mungkin butuh waktu berjam-jam. Terowongan utama ini memiliki 4 pintu ventilasi yang dihubungkan langsung dengan udara luar dan langsung dihubungkan dengan pipa dan blower yang harus dipompa terlebih dahulu untuk mendapatkan udara bersih. Sampai di lobi, mau tak mau kereta lori berhenti, perjalanan pun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Jalanan di sepanjang terowongan ini tidak rata, penuh air, dan licin.
batu-batu kuarsa yang diduga mengandung emas, lumpur emas yang ada di bak lori, dan sampah emas guna menutup kembali area yang telah di bor. Jadi, proses mendulang emas itu seperti sebuah siklus, terus berputar, sampah emas dikembalikan lagi ke tempatnya, Seperti itulah standar penambangan bawah tanah. 
Deden Rojudin,Ciurug,Gunung pongkor,Kabupaten Bogor

Rabu, 08 Agustus 2012

Go to Bantul

GUA PINDUL

Salah satu gua yang cukup populer di Yogyakarta adalah Gua Pindul, yang terletak di Desa Bejiharjo, Karangmojo, Kab Gunungkidul. Di Pindul, pengunjung dapat menelusuri gua di atas ban karet — atau sering disebut “tubing”. Berbeda dengan kebanyakan gua di Indonesia yang merupakan “gua kering” (yang dapat dimasuki wisatawan dengan sangat mudah), Gua Pindul ini termasuk “gua basah”, dengan sungai mengalir dari bagian depan hingga mulut gua di bagian belakang. Bersiap masuk ke gua dengan ban karet. Panjang gua sendiri berkisar sekitar 300 meter dengan aliran sungai yang sangat tenang. Pengunjung yang datang dan ingin melakukan telusur gua harus mendaftar terlebih dahulu dengan biaya Rp 30 ribu per orang. Biaya ini sudah termasuk ban karet, jaket pelampung (yang tahan beban 100 kg), dan pemandu. Barang-barang bawaan Anda dapat dititipkan di bagian keamanan, namun kamera harus tetap dibawa! Setelah mendaftar, Anda dipersilakan membawa ban karet menuju mulut gua, sekitar 200 meter dari bagian pendaftaran. Di sana, pemandu akan mengajak berdoa terlebih dahulu dan menjelaskan tata tertib. Salah satunya adalah, Anda dilarang membuang benda apa pun sembarangan karena pihak pengelola berusaha untuk menjaga kondisi gua dan sekitarnya. Gua Pindul terdiri dari tiga bagian; bagian terang, remang-remang, dan bagian gelap.

Di salah satu lokasi terdapat sebuat tempat yang datar, kabarnya dahulu merupakan tempat pertapaan. Di gua ini terdapat tiga satwa yang dilindungi, yaitu burung seriti, burung walet, dan kelelawar. Menurut pemandu, gua tersebut memang dibiarkan gelap tanpa penerangan untuk melindungi kelelawar yang hidup di dalamnya. Ada bagian gua yang menyempit hingga hanya cukup untuk satu ban karet. Pengunjung harus bergantian memasuki lorong ini. Pemandu akan membantu menarik ban-ban karet tersebut. Menjelang ujung gua, terdapat sebuah lokasi yang dapat digunakan untuk melompat. Benar kata si pemandu, sekali melompat Anda pasti ketagihan! Beberapa pengunjung sampai melompat 2 hingga 3 kali. Sampai di bagian luar gua, petualangan belum selesai. Pengunjung diharuskan naik dari pinggir sungai ke atas menggunakan tali. Pengelola memang sengaja tidak membuat tangga untuk membuat acara telusur gua menjadi lebih seru. Keseluruhan jelajah gua membutuhkan waktu 45 menit hingga 1 jam. Pengunjung diharuskan naik dari pinggir sungai ke atas menggunakan tali. 

Wisata di Gua Pindul sangat cocok bagi Anda yang gemar berpetualang, atau ingin berwisata bersama keluarga. Gua ini masih alami, pemandangan sekitarnya pun indah, sangat cocok untuk menghabiskan akhir pekan. Bila Anda berkesempatan berkunjung ke Pindul, jangan lewatkan juga kunjungan ke Gua Gelatik dan Monumen Jenderal Soedirman yang berada sangat dekat dari situ. Kalau ketagihan menyusuri aliran air dengan ban karet, silakan coba juga paket susur gua dengan ban karet di Sungai Oya tidak jauh dari situ. Waktu penyusuran di sini sekitar 1,5 jam. Tidak diperlukan persiapan khusus untuk melakukan cave tubing di Gua Pindul. Peralatan yang dibutuhkan hanyalah ban pelampung, life vest, serta head lamp yang semuanya sudah disediakan oleh pengelola. Aliran sungai yang sangat tenang menjadikan aktivitas ini aman dilakukan oleh siapapun, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Waktu terbaik untuk cave tubing di Gua Pindul adalah pagi hari sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB. Selain karena airnya tidak terlalu dingin, jika cuaca sedang cerah pada jam-jam tersebut akan muncul cahaya surga yang berasal dari sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah besar di atap gua. Sambil merasakan dinginnya air sungai yang membelai tubuh di tengah gua yang minim pencahayaan, seorang pemandu bercerita tentang asal-usul penamaan Gua Pindul. Menurut legenda yang dipercayai masyarakat dan dikisahkan turun temurun, Selain menceritakan tentang legenda Gua Pindul, pemandu pun akan menjelaskan ornamen yang ditemui di sepanjang pengarungan. Di gua ini terdapat beberapa ornamen cantik seperti batu kristal, moonmilk, serta stalaktit dan stalagmit yang indah.


Sebuah pilar raksasa yang terbentuk dari proses pertemuan stalaktit dan stalagmit yang usianya mencapai ribuan tahun menghadang di depan. Di beberapa bagian atap gua juga terdapat lukisan alami yang diciptakan oleh kelelawar penghuni gua. Di tengah gua terdapat satu tempat yang menyerupai kolam besar dan biasanya dijadikan tempat beristirahat sejenak sehingga wisatawan dapat berenang atau terjun dari ketinggian. Tatkala YogYES masih menikmati indahnya ornamen gua di sela bunyi kepak kelelawar dan kecipak air, mendadak pengarungan sudah sampai di mulut keluar gua. Bendungan Banyumoto yang



 PANTAI KUWARU 

Pantai Kuwaru berada di daerah Srandakan, Bantul, kurang lebih 29 KM keselatan Jogja. Selama di Jogja aku dah mengunjungi beberapa pantai. Tiap pantai punya ciri khas tersendiri. Seperti pantai “Kuwaru” ini, pantai nya sama seperti pantai kebanyakan dan ombak yang cukup tinggi jadi gak bisa berenang bebas ketengah. Akantetapi keunikanya dengan pohon cemara yang menghijau di sepanjang pantai. Di bawah rindangnya pepohonan cemara kita bisa bersantai sambil memandang lautan, kalo panas bisa berteduh di bawahnya. Jarang ketemu pantai yang banyak pepohonan cemara seperti dipantai ini.
Pantai “Kuwaru” cukup ramai pengunjungnya, karena memang cocok untuk bersantai keluarga dengan pepohonan cemara, di Pantai ini tersedia juga fasilitas permainanseperti kolam renang mini dan mengendarai ATV. Disepanjang pantai berdiri banyak warung makan yang akan memanjakan lidah dengan menu masakan laut dan juga makanan lain. Bersantai dan menikmati kuliner di bawah rindang pepohonan cemara sambil memandang laut pastilah sangat menyenangkan. 



 TAHU PONG

 Nama tahu pong berasal dari kata kopong atau kosong. Tahu yang digunakan untuk membuat hidangan tahu pong memang merupakan tahu yang kosong tidak ada isinya. Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nama pong berasal dari kata ‘phong’ yang dalam dialek Banlam (Hokkian Selatan) berarti menggembung.

 Hal ini cukup masuk akal mengingat pada mulanya tahu adalah makanan khas Cina yang dalam bahasa Hokian disebut dengan ‘tauhu’ (kedelai yang difermentasi), yang kemudian menyebar ke wilayah Asia Timur, Asia Tenggara, hingga ke seluruh dunia. Tahu goreng yang lezat ini kemudian disandingkan dengan sambal petis dan acar lobak. Petis inilah yang merupakan kuliner asli Indonesia. Berbeda dengan terasi yang dikenal hampir di seluruh kawasan Asia Tenggara, petis hanya dikenal di Indonesia khususnya di pesisir utara Jawa. Sejarah terciptanya petis berasal dari para nelayan di pesisir utara Jawa yang tidak ingin membuang sisa olahan makanan laut mereka. Sisa masakan tersebut lalu ditambah dengan gula jawa dan dipanaskan hingga mengental seperti saus dan digunakan sebagai teman makan kudapan. Dua jenis makanan dari dua budaya yang berbeda ini kemudian disandingkan dalam satu wadah sehingga terciptalah menu tahu pong yang mampu menggunggah selera. Anda yang suka pedas bisa menambahkan cabai yang telah diulek ke dalam petis yang telah dicairkan. Kemudian makanlah tahu bersama dengan sambal tersebut, sensasi gurih, asin dan manis segera terasa di mulut. Jangan lupa tambahkan acar lobak yang asam dan segar sebagai penyeimbang rasa.


 MIE LETHEK

 Mie lethek adalah salah satu kuliner dari Bantul yang berbahan tepung tapioka dan diproduksi dengan cara yang masih tradisional. Jenis kuliner ini sangat unik karena memiliki warna yang keruh kecoklatan sehingga tampak kurang menarik, karena warna keruhnya itulah mie ini disebut dengan Mie Lethek. Walau memiliki tampilan yang kurang menarik, namun citarasa mie lethek ini sungguh istimewa dan ngangeni di lidah. Mie lethek juga sering disebut mie bendo karena mengambil sebuah kampung yang memproduksi mie ini yaitu Desa Bendo, Trimurti, Srandakan, Bantul.

 Cara pembuatan mie lethek ini pun cukup unik, karena menggunakan tenaga sapi untuk menggiling adonan mie. Pamor mie ini sempat redup karena harus bersaing dengan berbagai macam produk mie instan yang ditawarkan di masyarakat, namun seiring waktu keberadaan mie lethek ini kembali eksis dengan mempertahankan citarasanya yang khas. Biasanya mie lethek disajikan dengan digodhog atau digoreng, dengan dilengkapi ceplokan telur bebek dan suiran daging ayam kampung. Untuk bisa menikmati kelezatan mie lethek yang melegenda silahkan saja datang ke Bantul, dan kebanyakan warung yang menghidangkan kuliner ini buka pada malam hari.

Sabtu, 23 Juni 2012

"Nature" Kalbar

Pulau Kalimantan adalah salah satu pulau yang di lewati oleh garis khatulistiwa dan kota yang di lalui garis khatulistiwa adalah kota Pontianak. Di kota Pontianak ini juga terdapat Tugu Khatulistitwa yang di bangun pada tahun 1928.
Kota Pontianak merupakan Ibukota Propinsi Kalimantan Barat
Tinggi permukaan tanah dari permukaan laut antara 0,8 s/d 1,5 meter

Struktur tanah merupakan lapisan tanah gambut bekas endapan Lumpur Sungai Kapuas. Lapisan tanah liat baru dicapai pada kedalaman 2,4 meter dari permukaan laut

Kota Pontianak termasuk beriklim tropis dengan suhu yang tertinggi ( berkisar antara 28 –32 derajat C dan suhu rata –rata pada siang hari 30 derajat C )
Kota Pontianak terletak pada garis lintang 0 derajat bertepatan dengan garis Khatulistiwa dan 109 derajat, 20 menit, 00 detik Bujur Timur


 Festival Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa ini berada di jalan Khatulistiwa kecamatan Pontianak Utara. Letak nya berada di pinggir jalan raya sehingga bila pengunjung ingin berkunjung Tugu Khatulistiwa ini tidak sulit untuk mencari lokasinya. Saat yang tepat untuk mengunjungi Tugu Khatulistiwa adalah saat dimana terjadi nya titik Kuliminasi yaitu pada bulan Maret dan September.



Seperti tanggal 22 September 2011 adalah perayaan titik kulminasi yang di rayakan serentak dengan Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. Tugu Khatulistiwa ini berada tidak jauh dari sungai sehingga bila di kunjungi pada waktu sore memberikan suasana yang berbeda terutama suasana senja di pinggiran sungai, sembari memandangi Tugu Khatulistiwa. Selain itu di sekitar Tugu Khatulistiwa ini juga halaman nya tertata rapi serta bersih. Rumputnya yang hijau serta tumbuhan - tumbuhan yang hijau beserta tanaman hias yang sangat indah.

Air Terjun Tikalong

Dengan pesona alam yang menakjubkan tak ada salahnya jika Kalimantan Barat menjadi salah satu tempat wisata favorit bagi Anda. Di daerah ini banyak sekali lokasi wisata alam berupa riam atau air terjun.
Salah satu tempat wisata yang wajib Anda kunjungi di Kalimantan Barat adalah air terjun Tikalong yang terletak di Kabupaten Bengkayang. Air terjun Tikalong merupakan air terjun mini dengan aliran air yang cukup deras namun sangat jernih.
Dengan udaranya yang sejuk dan nyaman menjadi tempat favorit bagi masyarakat untuk berlibur. Banyak orang yang datang ke kawasan ini untuk menikmati keasrian alam sekitar air terjun sambil berbasah-basah ria.

Jika Anda beruntung di kawasan ini Anda dapat menjumpai tanaman Keladi Tikus dengan bunganya yang berwarna ungu. Untuk menuju air terjun Tikalong dapat ditempuh dari kota Pontianak dengan mengendarai mobil selama 4 jam.


Pantai Kijing
Pantai Kijing yang merupakan pantai nan indah, terletak 18 kilometer dari kota Mempawah. Di pantai ini tersedia fasilitas kantin, kolam renang, musholla, wihara, taman dan panggung pertunjukan. Panggung pertunjukan menampilkan berbagai acara hiburan pada akhir pekan dan hari-hari libur lainnya. Lokasi pantai Kijing dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.

Nama Kijing berasal dari nama sejenis kerang berbentuk kecil dan memanjang yang banyak terdapat di tepi pantai. Sebelum menjadi lokasi obyek wisata seperti sekarang. Pantai Kijing merupakan tempat hidupnya hutan mangrove dengan berbagai jenis biota laut seperti kepiting, kerang, dan sebagainya. Di sepanjang pantai wisata Pantai Kijing, mulai dari arah Selatan hingga ke Utara yang terlihat hanya hamparan pasir putih dan rindangnya pohon kelapa sebagai tempat berteduh. Suasana pantai memang tak bisa dipungkiri memberikan keindahan tersendiri. Apalagi jika menjelang sore hari dan waktu terbenamnya sang matahari di ufuk Barat, memberikan kepuasan tersendiri bagi pengunjung. 

Pantai Pasir Panjang

Jejeran pohon kelapa yang mengawal bentangan pasir putih di Pantai Pasir Panjang, Kalimantan Barat seakan tak berujung. Bila beruntung dan cuaca cerah, Anda bisa mengintip Malaysia dari pantai ini.
Udara segar ditambah suasana yang jauh dari hiruk pikuk ibukota, dijamin ampuh menyegarkan kembali pikiran Anda. Pantai Pasir Panjang di Singkawang, Kalimantan Barat, boleh di datangi
pemandangan pulau-pulau di sekitarnya menjadi latar belakang yang sangat menawan. Pulau Kelapa dan Pulau Mentete menyatu dengan hutan pinus yang tertata rapi seolah membungkus pantai cantik ini. Sungguh, Pasir Panjang ini memiliki alam yang sangat eksotis.
Saat cuaca cerah, pelancong bisa melihat Malaysia. Saat senja menjelang, sunset cantik nan eksotis siap mengisi memori kamera Anda. Baru setengah mentari menenggelamkan tubuhnya, segerombolan ikan terbang "menari" di laut. Wah!
Berjarak sekitar 142 kilometer dari Kota Pontianak, wisatawan bisa memulai perjalanan dari Bandara Supadio atau Terminal Bus Pontianak. Dari sini pengunjung bisa naik taksi, travel, atau bus untuk sampai ke Kota Singkawang. Selanjutnya, dari Singkawang, wisatawan bisa menggunakan taksi, bus, atau minibus.
Tidak ada kata menyesal dan bosan setelah datang ke pantai ini. Bahkan wisatawan mancanegara sudah banyak yang mengincar dan mendatangi Pasir Panjang. Wow! Tuhan, benar-benar mahir dalam menata alam semesta ini.
Siapkan peralatan dan perbekalan, karena keindahan tak berujung di Pantai Pasir Panjang akan membuat anda lupa waktu.

Deden Rojudin,Mempawah/Kalimantan Barat

Selasa, 12 Juni 2012

Menjelajahi hutan hujan papua

Perjalan surveyor yang menjelajahi semua pulau di negeri ku ini telah aku mulai sejak lulus dari sekolah  pemetan di kota kelahiran sejak tahun 2007, sudah berbagai tempat,baik pulau kecil,maupun besar telah aku singgahi,banyak suka duka yang aku alami selama menjadi petualang ,keluar masuk perusahaan,samapai akhirnya saya masuk sebuah BUMN. yang bergerak di bidang pertambangan.ya di PT.ANTAM saya mulai masuk dan mengenal dunia pertambangan.

Perjalalan di mulai dari jakarta menuju kota terbesar di bagian timur indonesia ini jayapura,yang langsung di sambut oleh indahnya danau sentani nan eksotis,,ya di menuju bandar udara sentani.

Dari sentani saya melanjutkan perjalanan menuju Oksibil sebuah kota pegunungan yang terletak di ujung timur pulau papua uang berbatasan langsung dengan Papua New Guinea

Oksibil adalah ibu kota Pegunungan Bintang Papua, kota kecil yang sejuk dan dingin ini terletak di ketinggian sekitar 1400 meter dari permukaaan laut, dengan panorama alam yang masih terasa asli dan asri kota oksibil terasa sejuk dan damai. Kota oksibil merupakan kota yang berada di cekungan yang dikelilingi tangkapan aiar hujan pegunungan kapur (kars) berkarakter hutan hujan pegunungan tinggi. 

Kesan lain yang menonjol di kota Oksibil adalah harga kebutuhan hidup baik kebutuhan pokok dan kebutuhan sekunder lainya. Contoh harga sayur kol dengan ukuran normal (sebesar kelapa) harga sudah pasti diatas dua puluh ribu per biji, semen per sak 800.000 - 1.200.000, bensin dan solar harga rata rata 35.000 per liter, demikian kondisi harga yang tinggi karena semua sangat tergantung pasokan dari kota Jaya Pura dengan aalat tranport satu satunya hanya pesat udara.




Dari oksibil saya melanjutkan perjalanan ke camp eksplorasi PT.Antam unit geomin menggunakan helikopter MI milik TNI AD,perjalanan dari oksibil ke segnam menggunakan heli hanya 15 menit saja,tapi kalau kita berjalan kaki menghabiskan waktu kurang lebih 6 hari untuk mencapai camp utama itu.

Subhanallah,subhanallah,kata-kata itu yang keluar dari hati,dan mulut saya ketika pertama melihat rimbanya hutan yang belum terjamah oleh manusia.



WELCOME to SEGNAM 
Adalah tulisan yang pertama yang saya ketika turun dari helikopter yang mengantarkan saya ke lokasi camp PT.Antam unit Geomin.

Hutan hujan oksibil


Hijauanya Hutan di oksibil bukan gambaran kecukupan akan daya menyimpan air, yang umumnya terjadi di hutan hutan lain di luar papua, hal ini yang sering mengecoh kita, bahwa kita sering beranggapan bahwa hijau hutan identik dengan tingginya air yang disimpan dalam hutan, ini tidak berlaku di hutan oksibil. Kenapa demikian, karena lantai hutan di sana merupakan batu kars hampir sama dengan Wonosari, yang memiliki solum tanah sangat tipis, namun karena karakter hutan hujan pegunungan tinggi yang memiliki intensitas dan jumlah hujan yang tinggi maka sifat hijau vegetasinya juga selalu tampak lestari, padahal sebenarnya jangka panjang sangat rawan kekeringan apabila salah pengelolaannya. Coba bayangkan apabila hujan di oksibil sempat tidak turun selama 2 -3 minggu, saya percaya kekeringan sudah tentu akan dirasakan, apalagi tempat penyimpanan air alami (reservoir) yang ada saat ini khususnya di lembah justru sekarang banyak berubah menjadi tempat pemukiman (kota) , maka perencanaan pemanfaatan sumber daya lahan dan hutan serta pengelolaannya sudah barang tentu harus secermat mungkin dan mengedepankan kelestarian lingkungan menjadi sangat prioritas saat ini.




Berburu di hutan 

Berburu merupakan hal atau kebiasaan manusia mencari atau mengejar binatang dengan cara jituh yang mereka miliki. Dengan cara- cara yang mereka miliki inilah merupakan kebiasaan atau sistem social masyarakat. Pengertian perburu menurut Kamus besar bahasa Indonesia mengejar untuk menangkap binatang di dalam hutan.



Alat berburu



Di daerah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, untuk berburu binatang ( kuskus pohon) atau bintang lainya, menggunakan senjata tradisional. Senjata tradisional ini adalah busur dan anak pana. Anak pana ini ada berbagai jenis, diantaranya; betop, awel, batol, arah (sebutan dari bahasa Ngalum). Dari ke empat anak panah diatas fungsinya masing- masing.

Betop merupakan salah satu anak panah yang berjenis besar. Anak panah (betop) terbuat dari bambu. Cara membuat anak panah (betop) ini adalah mengambil babu yang sudah tua, lalu kemudian dipotong- potong. Setelah itu, di belah- belah menjadi beberapa bagian kemudian akan dikeringkan diatas atap tungku api. Setelah kering, lalu kemudian akan dibuat menjadi anak panah. Bentuk anak panah ini adalah tidak bulat panjang, tetapi agak tipis dan lebar dan kedua ujungnya tajam. Anak panah ini biasa gunakan untuk membunu babi atau sapi, rusah, dan binatang yang berjenis besar.
Awel ini merupakan salah satu jenis anak pana yang dibuat dari kayu sembarangan.  Bentuk anak panah ini seperti paku seng. Fungsi anak panah ini adalah untuk membunu ular atau cecak, burung, tikus tanah, dan binatang yang berjenis kecil lainya.
Batol merupakan salah satu jenis anak panah yang dibuat dari akar buah pandan atau dengan kayu. Fungsi utama anak panah ini adalah untuk membunu burung, kuskus, tikus tanah, ikan, dan binatang lainya, dan.
Arah merupakan salah satu jenis anak panah yang di buat dari kayu yang khusus. Karena anak pana ini merupakan anak pana yang paling penting dan berbahaya. Anak pana ini pajang dan ada giginya, untuk merobek binatang. Jenis anak pana ini,  paling utama dan peranan penting  dalam berburu atau pun gunakan dalam perang. Dalam fungsinya adalah gunakan untuk membunuh manusia, kuskus, babi, sapi, dan binatang lainya.

Jadi pada intinya adalah bahwa cara berburu kuskus pohon, ini ada maksud tertentu yang berarti bagi masyarakat. Kedua  acara ini harus digelar atau di lakukan bersamaan hingga berakhirnya. Karena kedua acara ini saling mendukung satu sama lainya (ada kaitanya/ hubungan timbale - balik ).
Berburu kuskus hanya sekedar (bukan karena adat) ini dalam pencariannya dan untuk mendapatkan bintang ini sangat susah. Dan hal ini kemungkinan besarnya adalah kuskus ini merupakan salah satu binatang  yang berlambang atau simbol dalam  tata cara adat (atangki) masyarakat Kabupaten Pegunugan Bintang. Aratinya kuskus ini sebagai salah – satu binatang yang berarti bagi kehidupan masyarakat Pegunungan Bintang, Papua.  Lalu kemudian, istilah yang biasa di gunakan dalam bahasa ngalum adalah kakaki. kaki artinya symbol keperyaan bagi masyarakat pegungungan bintang dimana mendewasakan anak  anaka  laki- laki sebagai pemegang pondasi atau pengganti Bapak. Oleh karenanya kalau kita cari bintang ini begitu sekedar saja tidak mudah untuk menemukanya.

Untuk mencari atau  berburu binatang ini,  kita harus menggunakan peralatan berburuan yang lengkap. Peralatan atau bahan untuk mencari kuskus pohon antara lain: busur dan anak pana, peluru cis, senapan angin, senter, baterai (batere), percis, dan perlengkapan lainnya. Kadang kalah dalam pemburuan binatang ini tidak tentu kita dapat, dan sebaliknya.  Kadang tidak.
Tempat atau lokasi yang kita mau berburu bukan di ladang tau kebun, tetapi kita mencarinya di hutan belantara menggunakan senter atau cahaya bulan. Untuk ketemu binatang ini, tentu punya cara- cara tersendiri, yaitu kita duduk mendengarkan jejaknya ia mencari makan, atau pada saat ia jalan mencari makan lalu kita bisa ketahuinya. Kedua,  kalau  mau ketemu denga cepat, kita harus membawa  anjing. Kalau anjing yang kita bawa ini menggong -gong, maka itu menandakan bahwa ia ada lihat kuskus atau binatang lainya.
Setelah kita ketemu  binatang ini, kita mulai mengancang- ancang untuk membununya. Kalau pake anak pana, tentu akan panjat  pohon  lalu memana atau menembakinya. Kalau menembaki menggunakan senapan angin, hanya tinggal pompa dan menembakinya. Tapi belum tentu kita begitu tembak ia mati, tapi tembak berkali- kali baru ia bisa mati. Namun kita tembak pada sasaranya, maka ia langsung mati. Alat – alat apa sajakah yang biasa digunakan mencari atau berburu kuskus pohon ini? Marilah kita lihat satu- per satu.
Untuk berburu kuskus atau binatang lainya menggunakan alat- alat tradisional. Alat – alat teradisional yang sering digunakan adalah sebagai berikut: anak pana (arah), busur (ebon), dan alat- alat lainya; seperti batol, awel, betop dll.  Alat- alat ini harus disiapkan dalan jumlah yang banyak  khusunya anak pananya.
Adakalah mereka tidak menggunakan alat- alat diatas, hanya mereka membawa anjing dan parang saja.  Kalau ada yang  melihat kuskus pohon hanya mereka tinggal mengusir kearah anjing untuk menangkap atau membununya. Anjing yang mereka bawa itu sudah terlati sejak kecil untuk berburu.

Bukan dengan cara itu saja, melainkan cara lainya adalah jerat. Jerat ini mereka buat diatas pohon- besar, dengan maksud kalau kuskus lewat bisa menyeratnya. Cara lainya lagi adalah masyarakat pegunungan Bintang sebut adalah tangop.  Tangop artinya, salah satu cara yang dibuat untuk mendapatkan kuskus. Cara ini sangat sederhana, yaitu seketik tempat dimana kuskus lewat itu mereka akan buat semacam pagar, tetapi diatasnya pagar itu, ada potongan kayu. Dan misalnya kuskus lewat, potongan kayu itu jatuh dan menindisnya.
Setelah masuknya pengaruh luar di tengah- tengah masyarakat Kabupaten Pegunungan Bintang, sebagaian alat- alat tradisional telah punah.  Dan sekarang mereka berburu kuskus menggunakan senjata cis atau senapan angin. Bahkan alat penerang yang mereka gunakan sekarang adalah senter, bukan lagi merek mencari menggunakan cahaya bulan di malam hari. Tetapi hebatnya adalah bahwa masa dulu mereka menggunakan alat- alat tradisional dan cepat mendapatkan binatang  ini dalam waktu sekejap. Tetapi sekarang kalau mau ketemu binatang ini sangat susah. Tetapi kemungkinan besar, masa dahulu alam juga mendukung maka mereka cepat untuk menemukannya.
Berdasarkan cerita Bapa kepala suku di pepera, dulu itu kita cari binatang itu mau adakan acara adat lalu kita cari binatang ini. Dan  acara berburu yang kami lakukan duluh itu secara adat katanya. Jadi untuk mendapatkan binatang (kuskus) tidak  lama. Lalu ia pun membandingkan  masa kini dengan masa lalu. Kata Bapaku sekarang kan kamu carinya karena bukan adat, hanya sekedar mau makan saja. Makanya kamu tidak menemukannya, carinya susah lalu dapat hasilnya. Tetapi kami berburu karena mau mengadakan ritual atau mengadakan acara adat.
Kuskus yang dapat tembak, tetapi ia tidak mau mati, ini menandakan bahwa kuskus itu belum waktu untuk meninggal. Hal ini masyarakat mereka tahu dan mereka akan kastinggal mencari yang lainya. Dalam pencarian bukan karena adat ini, kadang dapat dan kadang tidak.
Alat penerang yang mereka gunakan pada zaman dahulu  adalah cahaya bulan (malam hari). Artinya bahwa, mereka (masyarakat Pegunungan Bintang) zaman dahulu mereka berburu kuskus ini menggunakan cahaya bulan (sebelum masuknya pengaruh dari luar). Cara berburu ini, mereka akan lihat suaca. Kalau suacanya cerah dan bulan terang, itulah waktu yang pas bagi masyarakat Pegunungan Bintang untuk mencari kuskus pohon.  Kalau mereka ketemu kuskus, mereka harus panjat pohon lalu memana atau membunuhnya menggunakan anak panah.

Di daerah Pegunungan Bintang yang sekarang terjadi adalah mereka tidak mau beruru tanpa ada alat- alat penerang terutama, senter dan senapan angin (cis). Namun anehnya adalah, mereka berburu  menggunakan alat- alat yang lengkap, tidak seperti duluh tapi mereka tidak mendapatkan atau tidak menemukanya bintang tersebut. Dan inilah muncul pertanyaan besar. Hal ini saya sendiri sudah menghalami waktu berburu. Bukan saya saja mengalaminya, tetapi banyak orang mengatakan demikian.
Setelah masuknya pengaruh luar di daerah Pegunungan Bintang mereka sudah tinggalkan kebiasaan yang dulu. Alat- alat tradisional yang dulu mereka gunakan untuk berburu kuskus mereka tinggalkan. Tetapi menurut resepsi saya, hal itu baik dan bisa tidak. Karena semuanya ada yang baik dan ada yang buruk. Oleh karena itu, kita jangan semua kebiasaan dulu dihilangkan. Tetapi juga perluh kita merawatinya dan melestarikan apa yang dianggap baik, dan sebaliknya.

Fungsi utama dalam acara berburu kuskus pohon  adalah untuk mendewasakan anak laki- laki menjadi manusia yang dewasa dalam mentalnya. Fungis yang kedua adalah apabilah ada seseorang sakit, untuk menyebukan orang sakit ini melalui acara berburu. Karena hal ini merupakan suatu kepercayaan atau suatu kebiasaan yang diwariskan secara turun temur. Kepercayaan atau kebiasaan ini masyarakat pegunugan bintang sangat percaya dan selalu diakui oleh setiap kelompok, setiap idnvidu dan masal.
Sestem religi atau system kepercayaan terhadap suatu alaah ini berkakitan dengan Atangki(Allah). Dimana masyarakat Pegunungan Bintang percaya kepada Atangki sebelum masuk ajaran gereja Katolik.  Berburu kuskus ini salah satu cara masyarakat menyembah kepada Atangki dengan maksud “kamulah yang kkuasa” . karena semua yang ada di muka bumi ini engkaulah yang menciptakannya. Engkaulah pelindung kami,

System social masyarakat pegunugan Bintang ada enam tingkat. Enam tingkat ini berdasarkan Adat. Karena di dalam rumah honai (bokam) ada enam tempat yang sudah sah.  Dari ke enam tingkat social ini tidak ada yang kaya, dan tidak ada yang miskin, semuanya sama.  Karena setiap manusia hidup di bumi ini hanya sementara. Hanya sebentar singgah dan sebentar akan pergi untuk selamanya. Oleh karena itu, masyarakat di daerah ini semuanya sama drjat. Tidak ada yang dianggap “ saya saja hebat, sementara yang lainya tidak.
Makna dalam acara ini paling berarti bagi masyrakat Kabupaten Pegunungan Bintang. Terutama adalah anak – anak atau generasi mudah,  baik wanita maupun pria. Anak yang sudah lalui dalam proses ini cara berpikirnya akan berbeda dengan yang tidak. Bukan hanya cara berpikir saja, tetapi dalam hal apa saja, entah pekerjaanya dia, cara berburunya, cara menanggapi sesuatu denga cepat.  Hal lain lagi adalah bahwa ia akan terjamin dalam kesehatanya, dalam keluarganya, untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya dengan rendah hati. Oleh karenanya.

Acara ini kapan saja bisa diadakan. Hanya saja, harus sesuai dengan situasi yang ada di lingkunganya. Apabilah ada yang merasa sakit, atau mau ketempat lain karena ada kegiataan, maka akan ada acara tersebut di mulai. Lalu ada hal yang menarik dari acara ini adalah ibu yang hamil. Apabilah ibu tersebut hamil, lalu kesehatanya terganggu  maka mereka akan gelar acara ini.
Unik memang inilah wajah asli pribumi penghuni pulau paling kaya di negeri ini.

Deden Rojudin/Oksibil,Papua